Kumari, Dewi Hidup dari Nepal

Source: Google

Bagi kamu yang gemar membaca webcomic, mungkin pernah mendengar tentang For the Sake of Sita. Webcomic dengan total 14 episode ini rilis pada 13 Juni 2014. Mengisahkan tentang seorang pria yang berkunjung ke Nepal dan bertemu dengan sosok gadis cantik yang sempat menjadi seorang dewi di masa mudanya.

Tahukah kamu, bahwa tema mengenai ‘dewi hidup’ yang diangkat oleh webcomic ini berasal dari sebuah tradisi unik di Nepal yang betul-betul ada?

Kumari merupakan tradisi yang dipandang penting sebagai warisan budaya Nepal. Telah dilestarikan selama berabad-abad, Kumari adalah satu-satunya dewi hidup yang disembah oleh penganut Hindu dan Buddha di negara ini.

Para Kumari merupakan gadis muda yang belum memasuki masa remaja, yang dipilih secara langsung sejak lahir. Kepercayaan yang beredar meyakini bahwa gadis yang terpilih merupakan jelmaan dari dewi kekuatan dalam agama Hindu, Dewi Kali.

Setelah dipilih menjalani peran mereka sebagai Kumari, gadis-gadis ini harus memiliki ’32 tanda kesempurnaan’. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memenuhi peran sebagai Kumari pun sangat rumit, seperti memiliki kesehatan yang sempurna tanpa riwayat penyakit serius, kulit tidak bercacat, rambut hitam, mata ekspresif yang indah, suara nyaring, lengan panjang ramping, tangan dan kaki halus dan lembut, rambut lurus ikal ke kanan. samping, tidak ada bau badan yang tidak enak, dan tidak pernah terluka.

Persyaratan lain yang paling penting adalah bahwa gadis tersebut belum memasuki masa remaja, yang artinya sang Kumari tidak pernah menstruasi. Reputasi ketaatan keluarganya pun menjadi pertimbangan penting untuk pemenuhan syarat-syarat ini. Selain itu, karena Kumari memiliki peran penting untuk Raja Nepal, horoskopnya juga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan tingkat kecocokannya dengan sang raja.

Dengan terpilih menjadi Kumari, mereka harus siap menjalani kehidupan baru. Menjadi seorang dewi tidak serta merta membuat mereka bebas melakukan apa saja. Kebalikannya, tugas dan aturan yang harus dijalani setelah menjadi Kumari sangat banyak. Gadis-gadis kecil ini akan tinggal terpisah dengan keluarganya, yang hanya akan mengunjunginya di saat acara formal berlangsung. Mereka juga akan merasa kesepian karena tidak memiliki teman bermain.

Tidak hanya saat pemilihan, saat telah terpilih pun para Kumari harus mematuhi banyak peraturan. Mereka harus selalu memakai pakaian berwarna merah, menyanggul rambut, dan menggunakan riasan wajah tertentu. Kaki mereka juga tidak diperbolehkan untuk menyentuh tanah. Gerakan seorang Kumari juga diperhatikan. Gestur tertentu yang dibuatnya akan menjadi penentu nasib orang-orang di wilayah tersebut. Menangis atau tertawa dengan keras berarti penyakit atau kematian. Jika seorang Kumari menggosok mata, artinya salah satu masyarakat akan menghadapi kematian mendadak.

Kehidupan gadis-gadis kecil sebagai Kumari ini akan berakhir jika mereka telah mengeluarkan darah dari tubuhnya. Ini berarti mereka akan berhenti menjadi Kumari setelah mendapatkan menstruasi pertamanya. Namun, pada beberapa kasus, jika ada luka lain di tubuhnya yang mengeluarkan darah, sang Kumari juga akan berakhir masa tugasnya.

[Andin Danaryati]

Komentar

Postingan Populer